Sabtu, 19 Mei 2012

sepatuku sejarahku

Tahun ajaran 1997/1998 adalah awal mula aku mengenyam bangku Taman Kanak-Kanak di TK Cut Nya Dien, Jember. Sebagai anak kecil yang masih mempunyai pengetahuan minim tentang arti sekolah, aku hanya tau sekolah itu adalah tempat untuk bermain ayunan dan berlari-lari bersama teman. Semula orang tuaku telah memberi tahukan bahwa aku akan mulai bersekolah  1 bulan lagi jadi setelah kedua orang tuaku telah mempersiapkan sebagian peralatan sekolahku, mulai dari tas, buku gambar, kaos kaki, alat tulis, seragam.
Setelah semua barang yang dibutuhkan terlengkapi tapi aku merasa ada yang aneh. Sepatu!! Yak sepatu baruku kemana??  Mengapa tidak ada sepatu untuk aku?? Apa aku tidak akan mengenakan sepatu?? Dengan polosnya aku bertanya kepada mama yang saat itu duduk di sebelah ku sambil menyampuli buku tulis yang akan aku bawa nanti saat sekolah.
 “Ma..sepatuku baruku mana? ” tanyaku.
“Oh iya.. mama lupa” kata mama sambil beranjak ke arah rak sepatu dan sandal.
“Ini ayo di coba dulu! Sakalian pakek kaos kakinya biar pas. ” kata mama seraya masuk sambil membawa sepatu.
Disana aku tercengang dan sedikit heran, betapa tidak.. Semula aku telah membayangkan bahwa setelah mama masuk sambil membawa bungkusan sepatu aku akan menjadi orang yang pertama membuka bungkus sepatu baruku. Tapi ternyata sepatu itu telah tak berbungkus dan itu tandanya sudah tidak baru lagi. Sedih rasanya.
“Ini sepatunya, ayo di pakek nduk....” perintah mama sambil memberikan sepatu tersebut kepadaku.
“Kok sepatunya gak baru ma??” kataku dengan wajah sedikit kecewa. Mendengar hal itu mama dan bapak menjadi tersenyum dan menceritakan mengapa sepatuku tidak baru seperti anak lainnya.
“sepatu ini memang tidak baru, tapi jangan salah, sepatu ini dulu pernah dipakek oleh saudara sepupumu waktu dia TK juga. Dan sepatu ini bukan sepatu biasa, sepatu ini di beli oleh mbah kakungmu waktu tugas di papua. Jadi sepatu ini khusus di beli memeng buat cucunya turun temurun. Lagian sepatunya masih bagus kan, awet lagi.” Jelas mama.

                                                                                JJJ

                Tak terasa dua setengah bulan aku mengenal dunia baruku. Dan sepatu warisan mbah kakungku pun masih setia menemani setiap langkah kecilku. Tapi justru dari sinilah aku mulai benar-benar  mencintai sepatu warisan tersebut. Sepatu itu telah menyelamatkanku dari bahaya.
                Bahaya itu bermula saat mama menjemputku pulang dari sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah tidak begitu jauh. Mama menjemputku dengan mengendarai spedah mini. Di saat hampir mendekati rumah tiba-tiba imajinasiku muncul. Aku berpikir seandainya jika kaki ku aku masukkan ke dalam jeruji roda yang saat ini berputar apa kakiku ikut berputar dan menjadi panjang seperti karet yang di tarik? Terdengar konyol dan sedikit tidak waras mungkin... tapi yaaaah itulah pikiran anak kecil. Dan akhirnya aku memasukkan kaki ku ke dalam jeruji yang sedang berputar dan aaaaaaaaaaaaa aku menjerit sejadi-jadinya dan saat itu pula mama merasa ada yang aneh dengan sepedah yang kami naiki.
                “Mamaaaaaa kakiku maaaaaaaaaaa...” jeritku yang kemudian di lihat oleh orang banyak.
                “Looh kakimu kok bisa masuk???!” tanya mama dangan nada panik. Orang-orang banyak yang berkerumun dan berusaha mengeluarkan kakiku dari jeruji sepedah. Setelah berhasil terlepas mama mengucapkan terimakasih dan langsung beranjak munuju ke rumah karena takut kakiku akan mengeluarkan banyak darah. Sesampainya derumah betapa kagetnya mama melihat sepatu dan kakiku. Sepatu tersebut masih dalam kaedaan baik dan kakiku tiadak berdarah sedikitpun padahal jika diingat putaran roda sepedah cukup keras.
                Aku bersyukur tak terjadi apapun pada kakiku. Dan mulai sejak itu aku merawat sepatu warisan mbah kakung dengan baik. Tiap pulang sekolah aku selallu menjemur di bawah sinar matahari supaya tidak bau. Menyemir saat akan berangkat sekolah karena aku juga di beri pesan untuk membersihkan sepatu itu.

                                                                              JJJ

              Kini sepatu itu menjadi salah satu barang yang tak terlepas dari bayang-bayang hidupku dan telah menjadi salah satu peninggalan bersejarah saat aku masih anak-anak. Terimakasah mama yang telah memberikan sepatu hebat itu dan terimakasih mbah kakung yang telah mewariskannya kepadaku.

3 komentar:

  1. cerita yang baguuuusss..
    jadi pengen tau sepatu warisan ituh...;)

    BalasHapus
  2. heheheh
    sapatunya tu udah berkali" revisi..
    moga mnang yak ndau hehehehe

    BalasHapus