Rabu, 02 Mei 2012

Perihnya Negeriku Indonesia


Bukan untuk mendompleng kepopuleran film Lucunya Negeriku Indonesia jika judul tulisan ini terkesan agak mirip. Pun juga bukan untuk menertawakan karut marutnya pengelolahan Negara akhir-akhir ini. Namun hanya sekedar celoteh yang menggambarkan keprihatinan dan kekawatiran beberapa teman mahasiswa Indonesia di Jepang (Kumamoto) akan hancurnya negeri kita tercinta. Berawal dari sebuah diskusi kecil selepas shalat magrib,dijadikanlah tulisan ini semacam resume kuliah keindonesiaan versi: Ronny Radianto,Faisal Rahul,Erwin,Komang. Dan kebetulan penulis  jadi juru ketiknya (notulen).

Entah dari mana memulainya diskusi kala itu,namun keasyikannya mengalahkan pertandingan liga champion yang membuat Barca bertekuk di hadapan Chelsea. Kejelian merekai berempat memotret Indonesia dari berbagai lininya, seolah-olah tak mau kalah dengan kejelian pelatih Chelsea meracik pemainnya. Meski tidak sepandai pakar dan pengamat politik tanah air,namun penilaian dan pandangan-pandangan mereka  dijamin lugu,tulus dan ikhlas. Ketidak tertarikan mereka pada simpul-simpul politik ditanah air memungkinkan posisinya laksana cendekia yang sebenarnya:berada di awang-awang,tidak terpengaruh oleh gravitasi kepentingan dan interest pribadi.

Bukan rahasia umum jika  setiap orang Jepang yang bertemu dan sempat ngobrol dengan mahasiswa Indonesia,pastilah kata berikut sering terucap:wah kamu pasti kaya ya?.Mereka menganggap mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang sebagai orang kaya,banyak duitnya,disamping cerdas-cerdas tentunya (narsis dikit,he he he he). Anggapan ini meski tidak sepenuhnya benar,namun memberikan indikasi nyata akan keradaan Negara kita yang kaya disisi lain.Namun sayang,kekayaan yang dianugerahkan kepada Bangsa Kita tidak mampu kita kelolah dengan baik.Kekayaan itu bukan menjadi rahmat namun kini mulai menjadi bencana,sumber konflik berkepanjangan.

Para pejabatnya saling berebut kursi kekuasaan,dengan harapan mendapat ruang yang besar untuk kembali modal. Biaya dan pembelian suara atas nama demokrasi digadaikan kepada para kapitalis dengan dalih pembangunan dan investasi. Rakyat dibutakan mata dan hatinya dengan lembaran-lembaran uang 20 ribuan,50 ribuan,100 ribuan. Rakyatpun bersorak kegirangan,tanpa berfikir akibatnya. Uang-uang pemodal dan makelar politik laksana oase yang menyegarkan sesaat setelah kesulitan dan himpitan ekonomi menderahnya tiap hari. Setelah sempat bersorak untuk beberapa saat,kini rakyat kembali meraung-raung di tengah kesulitan ekonomi.Aset-aset Negara dijual pada para tengkulak politik. Penguasa asyik menghitung upeti-upeti dari setiap proyek prestisius para kapitalis. Pedagang kecil di gusur atas nama ketertiban kota, lapak-lapak dibumi hanguskan untuk memberi tempat bagi pasar modern dan mall-mall.Perihnya Negeriku Indonesia,ibarat keluarga, tanahnya telah dijual,dan saat ini rumahnya mau digadaikan,kemana keluargamu akan berteduh dari kepanasan dan kedinginan?

Dan perihnya Semakin memanas saat mereka membahas pola-pola korupsi,dari yang sederhana sampai yang rapi dan professional. Kejahatan kerah putih seperti Gayus,Dhana.Nazarudin,atau kasus kecil-kecil dan suap di lembaga pemerintah adalah potret buram pengelolahan Negara. Negara kita tidak ubahnya ladang bagi berkembang biaknya para makelar dan preman-preman politik.Tidak ada tempat yang tidak tersentuh oleh korupsi dan turunannya.Dari mengurus kartu KK sampai mendapat pekerjaan semua telah dikuasai oleh jejaring besar bernama :KORUPSI!.

Benarlah yang dikatakan oleh Komarudin Hidayat-Rektor UIN Jakarta- beberapa tahun yang lalu. Beliau mengistilahkan prilaku politik kita ibarat lomba panjat pinang,saling sikut dan menindih untuk merebutkan kue alias duit dan kekuasaan. Politikus telah menjadi penguasa atas bangsa ini!. Saking menjengkelkannya prilaku politikus itu ada guyunan dari masyarakat tentang fenomenanya.Dan inilah anekdot itu:500 anggota DPR naik pesawat melakukan kunjungan ke luar negeri. Konon katanya sih untuk study banding atau apalah.Anehnya, seluruh keluarganya diajak turut serta,mumpung gratis kali ya? Di atas lautan atlantik,tiba-tiba pesawat oleng dan hilang kendali?kira-kira yang selamat berapa ya? Dan jawabannya adalah 250 juta rakyat Indonesia!kok bisa!cari sendiri dong jawabannya,he he he he he he.

Dalam kesempatan itu,mas Faisal Rahul juga memberi contoh nyata betapa pemerintah kita kurang bisa menghargai prestasi anak negeri. Konon,Seorang alumni ITB dengan predikat caumloude lulus dari perguruan tinggi di Jerman,setelahnya dia ingin mengabdi untuk negerinya.Namun bukan sambutan yang ia dapat,malah penolakan dengan alasan yang kadang tidak rasional. Prestasi yang ingin disumbangkannya ke ibu pertiwi menjadi hampa karena korupsi memiliki jalannya sendiri  untuk menghancurkan negeri ini.Akhirnya,banyak putra terbaik bangsa yang memilih berkarier di luar negeri karena lebih dihargai dan diperhatikan keberadaannya.Kalaulah demikian adanya,siapakah yang diuntungkan?tentunya para makelar kekuasaan dan penguasa-penguasa politik korup!.Karena dengan mudahnya mereka bisa memperdaya rakyat dengan pepesan-pepesan kosong dan selembar uang ribuan!.

Dan ternyata kembali ke mentalitas bangsa ini,yang seberapa hebatnya penderitaan yang dialami masih bisa bersabar dan tersenyum. Berbahagialah penguasa dan politikus korup,karena masih ada masyarakat Indonesia yang senantiasa berbaik hati kepadanya. Berbahagialah sang penguasa dan politikus korup,karena ada tokoh agama yang mengajarkan keikhlasan dan kesabaran bagi umatnya untuk menghadapi cobaan dan perlakuan tidak adil pemimpinnya.Berbahagialah para pemimpin dan politikus yang korup,karena mereka dibekali dengan banyak permainan social yang bisa digunakan sebagai  mesin pengalih isu bagi keselamatan dirinya. Berbahagialah para pemimpin dan politikus yang korup,karena kemiskinan menjadi jalan paling indah bagi mereka meraih kekuasaan dengan sangat mudahnya. Berbekal ijasah palsu dan uang 100 ribuan terdulanglah ribuan suara dari rakyat yang tertutup matanya oleh materi.Dan berbahagialah para pemimpin dan koruptor,karena dengan mudahnya kita memaafkan kesalahan-kesalahannya.  Dan berbahagialah para pemimpin dan koruptor,karena celoteh-celoteh kepedulian terhadap bangsa semacam ini kalah menarik dengan berita gossip terkini para selebritis yang galau,atau putus nyambung. Dan berbahagialah para pemimpin dan koruptor,karena suara protes-protes semacam ini tidak menarik didengarkan oleh  bangsa ini karena lebih menarik  lagunya trio macan:iwak peyek,atau Cherrybelle. Dan beruntunglah para politikus pemeran adegan porno,karena kasusnya tidak terlalu menyita perhatian masyarakat dibanding dengan aksi brutal geng motor atau kasus Peterporn. Dan berbahagialah para pemimpin dan koruptor yang hobi study banding ke luar negeri,karena hobi belanja dan memboyong keluarganya hanya di posting di Youtube.

Dan akhirnya mereka menjadi Koruptor di Negeri Sendiri.Akankah perih itu berakhir atau justru merobek ibu pertiwi?waallahualam bisshowab!Akhirnya,Semoga mereka berempat (Donny Radianto,Faisal Rahul,Erwin dan Komang) meluangkan waktu lagi untuk berdiskusi sehingga tulisan ini bisa bersambung! Kapan mas?



NB : jd semangat baca tulisan guru saya :)... ayo pak nulis lagi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar