Tahun ajaran 1997/1998 adalah awal mula aku mengenyam
bangku Taman Kanak-Kanak di TK Cut Nya Dien, Jember. Sebagai anak kecil yang
masih mempunyai pengetahuan minim tentang arti sekolah, aku hanya tau sekolah
itu adalah tempat untuk bermain ayunan dan berlari-lari bersama teman. Semula
orang tuaku telah memberi tahukan bahwa aku akan mulai bersekolah 1 bulan lagi jadi setelah kedua orang tuaku
telah mempersiapkan sebagian peralatan sekolahku, mulai dari tas, buku gambar,
kaos kaki, alat tulis, seragam.
Setelah semua barang yang dibutuhkan terlengkapi
tapi aku merasa ada yang aneh. Sepatu!! Yak sepatu baruku kemana?? Mengapa tidak ada sepatu untuk aku?? Apa aku
tidak akan mengenakan sepatu?? Dengan polosnya aku bertanya kepada mama yang
saat itu duduk di sebelah ku sambil menyampuli buku tulis yang akan aku bawa
nanti saat sekolah.
“Ma..sepatuku
baruku mana? ” tanyaku.
“Oh iya.. mama lupa” kata mama sambil beranjak ke
arah rak sepatu dan sandal.
“Ini ayo di coba dulu! Sakalian pakek kaos kakinya
biar pas. ” kata mama seraya masuk sambil membawa sepatu.
Disana aku tercengang dan sedikit heran, betapa tidak..
Semula aku telah membayangkan bahwa setelah mama masuk sambil membawa bungkusan
sepatu aku akan menjadi orang yang pertama membuka bungkus sepatu baruku. Tapi ternyata
sepatu itu telah tak berbungkus dan itu tandanya sudah tidak baru lagi. Sedih rasanya.
“Ini sepatunya, ayo di pakek nduk....” perintah mama
sambil memberikan sepatu tersebut kepadaku.
“Kok sepatunya gak baru ma??” kataku dengan wajah
sedikit kecewa. Mendengar hal itu mama dan bapak menjadi tersenyum dan
menceritakan mengapa sepatuku tidak baru seperti anak lainnya.
“sepatu ini memang tidak baru, tapi jangan salah,
sepatu ini dulu pernah dipakek oleh saudara sepupumu waktu dia TK juga. Dan sepatu
ini bukan sepatu biasa, sepatu ini di beli oleh mbah kakungmu waktu tugas di
papua. Jadi sepatu ini khusus di beli memeng buat cucunya turun temurun. Lagian
sepatunya masih bagus kan, awet lagi.” Jelas mama.
JJJ
Tak terasa dua
setengah bulan aku mengenal dunia baruku. Dan sepatu warisan mbah kakungku pun
masih setia menemani setiap langkah kecilku. Tapi justru dari sinilah aku mulai
benar-benar mencintai sepatu warisan
tersebut. Sepatu itu telah menyelamatkanku dari bahaya.
Bahaya itu bermula
saat mama menjemputku pulang dari sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah tidak
begitu jauh. Mama menjemputku dengan mengendarai spedah mini. Di saat hampir mendekati
rumah tiba-tiba imajinasiku muncul. Aku berpikir seandainya jika kaki ku aku
masukkan ke dalam jeruji roda yang saat ini berputar apa kakiku ikut berputar
dan menjadi panjang seperti karet yang di tarik? Terdengar konyol dan sedikit
tidak waras mungkin... tapi yaaaah itulah pikiran anak kecil. Dan akhirnya aku
memasukkan kaki ku ke dalam jeruji yang sedang berputar dan aaaaaaaaaaaaa aku
menjerit sejadi-jadinya dan saat itu pula mama merasa ada yang aneh dengan
sepedah yang kami naiki.
“Mamaaaaaa kakiku
maaaaaaaaaaa...” jeritku yang kemudian di lihat oleh orang banyak.
“Looh kakimu kok
bisa masuk???!” tanya mama dangan nada panik. Orang-orang banyak yang
berkerumun dan berusaha mengeluarkan kakiku dari jeruji sepedah. Setelah berhasil
terlepas mama mengucapkan terimakasih dan langsung beranjak munuju ke rumah
karena takut kakiku akan mengeluarkan banyak darah. Sesampainya derumah betapa
kagetnya mama melihat sepatu dan kakiku. Sepatu tersebut masih dalam kaedaan
baik dan kakiku tiadak berdarah sedikitpun padahal jika diingat putaran roda
sepedah cukup keras.
Aku bersyukur tak
terjadi apapun pada kakiku. Dan mulai sejak itu aku merawat sepatu warisan mbah
kakung dengan baik. Tiap pulang sekolah aku selallu menjemur di bawah sinar
matahari supaya tidak bau. Menyemir saat akan berangkat sekolah karena aku juga
di beri pesan untuk membersihkan sepatu itu.
JJJ
Kini sepatu
itu menjadi salah satu barang yang tak terlepas dari bayang-bayang hidupku dan
telah menjadi salah satu peninggalan bersejarah saat aku masih anak-anak. Terimakasah
mama yang telah memberikan sepatu hebat itu dan terimakasih mbah kakung yang
telah mewariskannya kepadaku.
cerita yang baguuuusss..
BalasHapusjadi pengen tau sepatu warisan ituh...;)
heheheh
BalasHapussapatunya tu udah berkali" revisi..
moga mnang yak ndau hehehehe
Ndut, sepatu yg maannaaaa??
BalasHapus